MEDIA, EDUKASI ATAU MANIPULASI?

Saat ini kita tengah berada di era globalisasi. Suatu era yang ditandai dengan adanya persaingan dalam teknologi komunikasi, informasi dan transportasi. Globalisasi telah membawa perubahan perilaku terhadap kehidupan masyarakat, baik di bidang politik, ekonomi, sosial maupun budaya. Tak heran jika saat ini kebutuhan manusia akan informasi dapat dikatakan sudah menjadi hal pokok yang terus dan harus terpenuhi. Sederhananya setiap saat manusia akan mencari tahu apa yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Bahkan tidak jarang manusia melakukan segala cara hanya untuk mengetahui sebuah informasi. Salah satu sumber informasi yang akurat adalah media massa.

Banyak ahli komunikasi yang menyatakan bahwa saat ini kita hidup dalam apa yang dinamakan masyarakat komunikasi massa. Secara sederhana, masyarakat komunikasi massa merupakan masyarakat yang kehidupan kesehariannya tidak bisa dilepaskan dari media massa. Masyarakat komunikasi massa, menjual dan memberi barang melalui media massa, mencari informasi mutakhir, mencari bahan untuk pendidikan, mencari hiburan dan bahkan mencari jodoh pun melalui media massa. (Iriantara, 2007)

Media massa memiliki sifat atau karakteristik yang berbeda dengan media komunikasi lain agar terlihat mempunyai suatu ciri khas yang melekat padanya. Beberapa karakteristiknya adalah komunikator terlembagakan yang berarti media massa bukan hanya tentang informasi dan hiburan. Tetapi bagaimana sebuah media ini berjalan dengan baik dan terstruktur. Sehingga didalamnya terdapat struktur organisasi yang membagi setiap tugas dan kewajiban demi terwujudnya visi serta menjalankan misi yang telah disepakati bersama. Berikutnya adalah pesan bersifat umum, artinya jika dilihat dari namanya, media massa pasti akan mengabdi sepenuhnya untuk khalayaknya. Pesan yang disampaikan pun bersifat umum, baik nasional maupun internasional, tidak ada yang ditutup-tutupi. Asalkan masih dianggap wajar dan sesuai dengan kode etik jurnalistik. Karena khalayak luas membutuhkan informasi ataupun hiburan yang dapat dinikmati oleh siapapun. Selanjutnya adalah komunikan anonim dan heterogen, maksudnya khalayak yang bersifat heterogen baik dalam segi demografis, geografis, maupun psikologis. Komunikan juga bersifat anonim (tidak saling kenal), dimana jumlah keanggotaan komunikan sangat besar, tetapi pada suatu waktu dan mungkin tempat yang relatif sama mereka memperoleh jenis pesan yang sama dari media massa tertentu. Karakteristik berikutnya adalah media massa menimbulkan keserempakan, jumlah komunikan yang dicapai oleh media massa relatif banyak dan tidak terbatas. Bahkan, khalayak dapat menerima pesan secara bersamaan dengan media yang sama di tempat yang terpisah. Hal ini menandakan bahwa adanya keserempakan diantara khalayak media massa. Selain itu media juga mengutamakan unsur isi daripada hubungan, yang berarti dalam komunikasi massa, yang menentukan efektivitas adalah apanya. Ada hal penting apa yang diberikan oleh media kepada khalayak. Karena pada kenyataannya khalayak lebih tertarik dengan isi pesan media dibandingkan medianya. Selanjutnya bersifat satu arah, kelemahan dari komunikasi massa dengan menggunakan media massa adalah komunikator dan komunikannya tidak dapat melakukan kontak langsung. Hanya komunikator yang aktif dalam menyampaikan pesan. Sedangkan komunikan hanya bisa memperhatikan saja tanpa bisa berkomunikasi secara langsung. Ada pula stimuli alat indra terbatas, artinya komunikasi massa dengan media massa hanya dapat menggunakan indera berdasarkan jenis media massa yang digunakan oleh khalayak. Tidak semua alat indera dapat digunakan. Seperti surat kabar, pembaca hanya membaca. Ataukah radio, pendengar hanya bisa mendengarkan saja, dan lain sebagainya. Selanjutnya umpan balik tertunda, yang berarti umpan balik pada komunikasi massa bersifat tidak langsung (indirect feedback). Karena komunikator hanya memperoleh umpan balik dalam keadaan terlambat.

Berbicara tentang media massa memang tidak akan pernah berujung. Fungsi fungsi media Media massa senantiasa berkembang seiring dengan pergerakan zaman yang semakin maju. Pada mulanya, media berawal dari koran, kemudian radio, disusul televisi dan internet. Banyaknya media massa yang ada dengan pergerakan perkembangan yang begitu pesat tentunya menumbuhkan rasa khawatir bahwa media yang baru akan menggeser popularitas media yang lama. Dengan adanya kekhawatiran, pemilik pasti akan melakukan berbagai cara untuk tetap menarik perhatian masyarakat agar memilih media yang dikelolanya.

Pergeseran dapat dilihat dari terkikisnya koran dengan hadirnya radio dan televisi yang lebih memudahkan masyarakat dalam mendapatkan informasi. Minat baca masyarakat yang tergolong rendah, menjadi peluang untuk masuknya media selanjutnya. Jika kita harus membaca koran dan meninggalkan segala aktivitas kita untuk mendapatkan informasi, dengan radio dan televisi kita bisa menjadi multi tasking, dengan tetap melakukan aktivitas sambil mendengarkan radio atau menonton televisi untuk memperoleh informasi. Begitu pula hadirnya internet yang akan berpotensi menggeser keberadaan radio dan televisi dengan kekuatannya yang membantu kita mengakses segala hal yang kita ingin ketahui di dunia dengan hanya sekali klik. Tidak menutup kemungkinan juga bahwa nantinya akan muncul media baru yang menggantikan internet sebagai media yang paling populer saat ini. Jangankan yang berbeda jenis, yang sejenis saja seringkali berebut posisi. Televisi misalnya, antara satu stasiun televisi dengan stasiun lainnya kerap kali bersaing demi menarik hati pemirsa. Tentu hal tersebut tidak dapat disalahkan karena selayaknya media memang berkembang secara fleksibel dengan mengikuti perkembangan zaman dalam menghadirkan informasi tentang sebuah fenomena.

Di era sekarang, ada beberapa hal yang kerap kali menjadi masalah dalam pergerakan media massa, salah satunya yang paling sering menjadi perdebatan rekan-rekan akademisi tentang media massa yang tidak lagi berfungsi sebagai sarana berbagi informasi secara netral tetapi justru berpihak pada sebuah kepentingan yang dirasa menguntungkan bagi media tersebut namun merugikan masyarakat. Alhasil masyarakat tidak mendapatkan informasi yang seharusnya mereka peroleh. Padahal seharusnya media menjadi sarana komunikasi masyarakat untuk dapat menyuarakan apa yang ada di dalam hati dan fikiran mereka. Selain itu media pun seyogyanya dapat menjadi tempat masyarakat memperoleh informasi bersih bukan manipulasi. Ketika media tidak lagi mampu berdiri tegak pada idealisme dan hanya melindungi pihak-pihak tertentu saja dengan memberitakan hal yang baik tentang suatu golongan, apa bedanya media hari ini dengan pers di zaman orde baru? Media seolah lupa tentang perjuangan agar pers tidak lagi dikekang dan memihak satu kubu tetapi mampu menyajikan informasi yang sebenar-benarnya. Masyarakat awam seolah-olah hanya dimanfaatkan untuk memperoleh keuntungan pribadi sebuah media. Masyarakat terus dipaksa menonton “drama” perdebatan  antara satu media dengan media lainnya yang saling berperang mendoktrin masyarakat dengan rentetan informasi secara terbolak-balik. Hal ini kerap kali terjadi dalam beragam fenomena, salah satunya jika kita berkaca pada salah satu fenomena yang pernah terjadi. Di bulan Mei tahun 2006, ada sebuah fenomena menyemburnya lumpur panas yang ada di kawasan Sidoarjo. Beberapa media terkait menyebutkan bahwa kejadian ini merupakan bencana alam, sedangkan media lainnya berkata bahwa menyemburnya lumpur diakibatkan kesalahan perusahaan dalam pengeboran. Berdasarkan ketidakseragaman informasi yang diberikan, jelas terlihat bahwa orientasi media saat ini hanya sebatas mendapatkan keuntungan.

Melirik fungsi media massa lainnya seperti fungsi edukasi dan hiburan. Pada dasarnya, setiap orang memang membutuhkan hiburan untuk merefresh otak dan tubuh setelah lelah dengan rutinitas. Hiburan bisa didapatkan dari berbagai macam hal, misalnya internet. Namun internet bukan merupakan media yang dapat diakses oleh setiap tingkatan strata.

Tidak dapat dipungkiri bahwa televisi menjadi satu media yang dapat dijangkau oleh seluruh kalangan. Sayangnya, tidak semua televisi mampu menyajikan hiburan yang benar-benar menghibur. Bahkan jika diperhatikan sekarang, hampir seluruh stasiun televisi menyediakan hiburan dengan balutan kekerasan maupun bullying. Padahal televisi merupakan media yang memiliki dampak sosial cukup besar bagi pemirsa. Hal ini terbukti dengan adanya banyak kasus yang menyebutkan sebagian besar masyarakat yang melakukan kekerasan maupun tindak kriminal dari mencontoh adegan yang ada di televisi, baik sinetron, reality show maupun penyergapan kasus investigasi. Jika ditelaah lebih dalam lagi, seringkali menonton tayangan televisi akhir-akhir ini bukan sebagai penghibur tetapi penyebab konflik baru dalam diri pribadi dengan berbagai macam dampaknya. Dari kasus tersebut, masyarakat perlu lebih selektif lagi dalam memilah mana tontonan yang bisa dijadikan tuntunan, dan mana tontonan yang hanya mengejar popularitas tanpa memperhatikan dampak baik bagi masyarakat. Jangan rela dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang mencari keuntungan dengan cara membodohi kita. Kita jelas mencari informasi, edukasi dan hiburan dalam media massa sebagaimana fungsi media sebagai edukator bagi pemirsa. Bayar mahal untuk satu unit televisi beserta tagihan listriknya untuk menonton televisi guna mendapat dampak positif lebih. Tetapi pihak-pihak tertentu justru melihat ini sebagai peluang untuk memperoleh keuntungan pribadi. Jadi penikmat media yang cerdas tidak sulit. Tidak perlu terpaksa menonton tayangan yang memang tidak berguna bagi kita, niscaya media akan kembali mencari tahu apa yang dibutuhkan oleh masyarakat.

 

Iklan

Sejarah Muhammadiyah

muhammadiyah

Muhammadiyah didirikan di Kampung Kauman Yogyakarta, pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H/18 Nopember 1912 oleh seorang yang bernama Muhammad Darwis, kemudian dikenal dengan KHA Dahlan .

Beliau adalah pegawai kesultanan Kraton Yogyakarta sebagai seorang Khatib dan sebagai pedagang. Melihat keadaan ummat Islam pada waktu itu dalam keadaan jumud, beku dan penuh dengan amalan-amalan yang bersifat mistik, beliau tergerak hatinya untuk mengajak mereka kembali kepada ajaran Islam yang sebenarnya berdasarkan Qur`an dan Hadist. Oleh karena itu beliau memberikan pengertian keagamaan dirumahnya ditengah kesibukannya sebagai Khatib dan para pedagang.

Mula-mula ajaran ini ditolak, namun berkat ketekunan dan kesabarannya, akhirnya mendapat sambutan dari keluarga dan teman dekatnya. Profesinya sebagai pedagang sangat mendukung ajakan beliau, sehingga dalam waktu singkat ajakannya menyebar ke luar kampung Kauman bahkan sampai ke luar daerah dan ke luar pulau Jawa. Untuk mengorganisir kegiatan tersebut maka didirikan Persyarikatan Muhammadiyah. Dan kini Muhammadiyah telah ada diseluruh pelosok tanah air.

Disamping memberikan pelajaran/pengetahuannya kepada laki-laki, beliau juga memberi pelajaran kepada kaum Ibu muda dalam forum pengajian yang disebut “Sidratul Muntaha”. Pada siang hari pelajaran untuk anak-anak laki-laki dan perempuan. Pada malam hari untuk anak-anak yang telah dewasa.

KH A Dahlan memimpin Muhammadiyah dari tahun 1912 hingga tahun 1922 dimana saat itu masih menggunakan sistem permusyawaratan rapat tahunan. Pada rapat tahun ke 11, Pemimpin Muhammadiyah dipegang oleh KH Ibrahim yang kemudian memegang Muhammadiyah hingga tahun 1934.Rapat Tahunan itu sendiri kemudian berubah menjadi Konggres Tahunan pada tahun 1926 yang di kemudian hari berubah menjadi Muktamar tiga tahunan dan seperti saat ini Menjadi Muktamar 5 tahunan.